Dirjen Sumber Daya Iptek Berikan Kuliah Umum Di FKG UNAIR

  • By Super User
  • In FKG News
  • Posted 14 November 2016

Dalam upaya meningkatan sumber daya manusia pendidikan tinggi kesehatan dan kedokteran gigi ke depan, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan kuliah umum dengan mendatangkan pembicara Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D dari Kemenristek dan Dikti RI. Kuliah umum yang dihadiri puluhan peserta baik dari mahasiswa maupun dosen FKG tersebut diadakan di ruang kuliah B, Fakultas Kedokteran Gigi, Kamis (13/10).<!--more-->

Pada kesempatan tersebut, Ali mengungkapkan pentingnya mempersiapkan banyak hal dalam proses pendidikan di kedokteran gigi dan pendidikan kesehatan lainnya. Sebab di era MEA, kompetisi dan daya saing menjadi kunci bagi calon dokter yang tidak akan hanya ditempatkan di Indonesia, melainkan negara-negara lainnya. Menurut Ali, pola pikir yang dibangun calon dokter gigi di era MEA harus berubah, tidak hanya berpikir bahwa pasar yang akan mereka hadapi hanya di Surabaya, melainkan ASEAN.

“Indonesia ini negara dengan sumber daya alam yang besar, termasuk manusianya. Dengan jumlah yang tinggi ini, maka keterampilan menjadi penting. Keterampilan ini bisa dilatih dengan sarana dan prasarana yang mendukung,” tutur Ali.

Banyak sekali hal-hal yang sifatnya menjadi tanggung jawab antara kementrian kesehatan dan kementrian riset DIKTI. Dari skema yang ditunjukkan oleh Ali, terlihat bahwa Filipina memiliki tenaga dokter dan eksporter terbanyak dibandingkan Indonesia. Padahal, penduduk Indonesia lebih besar daripada Filipina. Ali menunjukkan pula banyaknya pasien yang memilih berobat di luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Australia.

“Kalau kita bekerja masih dengan mindset lokal, tentu tidak kompetitif. Apa yang dikejar, targetnya, akan terlalu kecil. Nanti kita bisa lihat, dokter gigi tahun 2019 paling tidak butuh sekitar 90 fakultas kedokteran gigi di Indonesia,” pungkas Ali.

Berbicara tentang kuantitas, di kedokteran secara umum terdapat uji kompetensi. Rumah sakit gigi sangat penting untuk mendukung keterampilan dari mahasiswa kedokteran gigi. Hal yang harus diperhatikan untuk menjadi seorang dokter gigi adalah kompetensi dan keterampilan yang dimiliki, tidak hanya sudah memiliki gelar atau ijin praktik. Bila hanya memiliki gelar tanpa kompetensi dan keterampilan yang memadahi, tentu akan menjadi polemik di kemudian hari bila terjadi malpraktik.

Dokter gigi juga dituntut memiliki keterpanggilan jiwa yang mana sangat dibutuhkan tenaganya di daerah-daerah terpencil atau perbatasan. Maka dari itu, sangat penting menghasilkan dokter gigi yang memiliki karakter. Sistem pendidikan harus menjadi terkoordinir dan satu kesatuan agar mampu menciptakan tenaga yang sesuai dengan kebutuhan.

“Jangan lupa juga, sistem pelayanan rumah sakit gigi harus baik. Jangan sampai dokter gigi tidak memahami sistem pelayanan yang berbasis asuransi. Tidak hanya SDM, sarana dan prasarananya juga diperhatikan. Untuk sekarang, kami (kemenristek) juga dituntut memperhatikan sarana dan prasarana rumah sakit gigi yang dimiliki fakultas kedokteran gigi,” kata Ali sebelum menutup kuliah umum. (*)

Penulis: Lovita Marta
Editor: Nuri Hermawa

Hits 600

Terpopuler