Surabaya, fkg.unair – Mars Stovit karya gubahan drg. Bambang Samodra berhasil menyabet juara pertama di ajang Lomba Menggubah Lagu Mars Stovit yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Uniknya, lagu Mars Stovit tersebut diciptakan oleh drg. Bambang Samodra hanya dalam kurun waktu satu minggu.
“Benar, hanya satu minggu. Saya menciptakan melodinya terlebih dahulu kurang lebih selama 3 hari. Baru kemudian mengisi lirik lagunya,” ujarnya.
Lirik Mars Stovit gubahannya bercerita tentang arti dari Stovit itu sendiri yang merupakan singkatan dari School Tot Opleiding Van Indische Tandarsten. Stovit yang didirikan di masa penjajahan Belanda kemudian berubah menjadi Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR. Di dalam liriknya, ia juga memasukkan ajakan kepada mahasiswa untuk berdarma bakti bagi nusa dan bangsa.
Sedangkan untuk melodinya, drg. Bambang Samodra juga memasukkan unsur musik klasik khas belanda tempo dulu. Menurutnya, lagu bergenre mars sejatinya adalah musik klasik yang bertujuan untuk membangkitkan semangat. Ibarat tengah mengiringi serdadu yang sedang berbaris.
“Karena saya sendiri adalah seorang pianis klasik, sehingga tidak terlepas dari musik klasik. Sejak kecil saya sudah dididik keras oleh ayah untuk belajar piano klasik,” ujarnya yang juga seorang pengajar di Gamelan Saptaswara.
Ya, seni dan budaya mengalir dalam darah seorang drg. Bambang Samodra. Terlahir dari keluarga bangsawan Jawa 60 tahun silam membuat Bambang Samodra dekat dengan dunia seni dan budaya sejak kecil. Ia belajar piano klasik dengan Mrs. Barbara S., kemudian dengan Mr. Tino van Kerdijk, dan Mrs. The Lan Ing.
“Zaman dulu kan tidak ada les piano ya. Jadi ayah saya mendatangkan guru piano klasik, orang Belanda, untuk mengajar saya,” ungkapnya.
Usai lulus dari SMA Santa Maria Surabaya, Bambang kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Ggi UNAIR. Maklum, menjadi bagian dari UNAIR juga telah mendarah daging dalam diri seorang Bambang Samodra.
“Ayah saya musisi dan dokter UNAIR, kakek dulu juga rektor kedua UNAIR, lalu nenek saya mahasiswa pertama Stovit yang dulu mahasiswanya masih berjumlah 21 orang,” ujarnya.
Semasa berkuliah, Bambang juga tetap berkesenian. Bahkan ia juga mengajak teman-temannya untuk membuat pagelaran berjudul Calonarang dan Ratu Kidul yang digelar di Candra Wilwatikta Jawa Timur dengan menggabungkan 100 penari Jawa dan Bali, gamelan Jawa dan Bali, serta paduan suara.
“Selama 7 tahun berkuliah, sayalah pianis andalan FKG masa itu,” ujarnya sambil terkekeh.
Sebenarnya, menjadi juara bukanlah tujuan Bambang Samodra mengikuti ajang ini. Ia hanya ingin mengenalkan musik klasik pada para mahasiswa. Ia berharap suatu saat ada mahasiswa FKG UNAIR yang mampu membuat karya seni seperti yang ia lakukan dulu.
“Menang atau kalah, saya hanya ingin lagu gubahan saya diperdengarkan di FKG. Sehingga suatu saat saya berharap ada mahasiswa yang melanjutkan melestarikan musik klasik di sana,” tandasnya. fen










